AGEN POKER | CARA DAFTAR POKER ONLINE INDONESIA TERPERCAYA

Belanda Depok Meninggalkan Trauma Gedoran, Menyongsong Era Toleran

Depok – Menjelang Abad 18, Depok merupakan bagian dari kawasan pertanian dan perkebunan seluas 1.244 hektare yang dimiliki Cornelis Chastelein, seorang mantan saudagar VOC. Untuk menggarap lahan seluas itu, Cornelis pun mempekerjakan 150 budak yang diambil dari wilayah yang kini menjadi bagian timur Indonesia, seperti Bali, Makassar, hingga Timor.

Meski demikian, Cornelis tidak menerapkan sistem perbudakan pada pekerjanya. Para budak tersebut juga mendapatkan pengajaran agama Kristen dan bahasa Belanda. Saat Cornelis meninggal pada 28 Juni 1714, ia meninggalkan surat wasiat yang isinya mewariskan seluruh tanah yang dimilikinya pada 150 budak tersebut, serta membebaskan mereka dari status perbudakan.

“150 budak itulah cikal bakalnya kaum Depok Lama, termasuk saya salah satu keturunannya. Mungkin pernah dengar cerita 12 marga yg dibaptis sebagai penganut Kristen, diajarkan berbahasa Belanda, itulah kami-kami ini,” ujar Ferdy Jonathans, Kepala Bidang Arsip dan Sejarah Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), saat ditemui di kantor YLCC, Jalan Pemuda, Pancoran Mas, Depok, pada Rabu (22/1/2019).

Ferdy Jonathans, Kepala Bidang Arsip dan Sejarah Yayasan Lembaga Cornelis ChasteleinFerdy Jonathans, Kepala Bidang Arsip dan Sejarah Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (Foto: Adhi Indra P/detikcom)

Saat itu, 150 pekerja Chastelein dikelompokkan dalam 12 marga. Marga itu adalah Jonathans, Leander, Jacob, Laurens, Bacas, Isakh, Joseph, Loen, Tholonse, Soedira, Samuel, dan Zadokh. Marga Zadokh telah punah. Jonathans merupakan satu dari 12 marga Kaum Depok Lama yang saat itu bersedia memeluk agama Kristen Protestan, agama yang juga dianut Cornelis.

“Tapi berpindah agamanya tidak dengan paksa,” ujar Ferdy menambahkan.

Kaum Kristiani banyak menghuni Depok Lama saat itu. Bahkan Jalan Pemuda, lokasi Kantor YLCC berada dulunya bernama ‘Jalan Gereja (Kerkstraat)’, di situ pula gereja pertama di Depok, yakni GPIB Immanuel, didirikan.

Namun Ferdy menyebut bahwa di zaman Cornelis, sebetulnya masyarakat muslim di sekitar Depok Lama sudah ada, hanya saja mereka tidak tinggal di tempat yang sama dengan Kaum Depok Lama. Mereka juga menjalin kerukunan dengan Kaum Depok Lama.

“Mungkin itu karena bentuk pertalian persaudaraan. Karena dari 12 marga yg ada, 1 marga hilang, Zadokh namanya. Nama Zadokh ini hilang, ada perkiraan dia kembali ke agama Islam. Maka dari itu, orang Depok Lama itu, zaman dulu ya, kalau Lebaran mereka ke kampung (mengunjugi yang muslim), kalau Natal, orang kampung yang ke sini, begitu saja. Jadi saling berkunjung. Kampungnya di sekitar Depok Lama, seperti Ratujaya, Beji, Citayam,” ujar Ferdy.

Menilik sejarah tersebut, diperkirakan kerukunan umat beragama di wilayah Depok Lama memang sudah terjalin sejak lama.

Saat ini, kondisi di sekitar Jalan Pemuda sudah majemuk. Meski begitu, umat Kristiani yang sejak dulu bermukim di sekitar Jalan Pemuda tak pernah mempersoalkan hal tersebut.

Tak jauh dari Kantor YLCC, ada Masjid Al Muhhimah SMPN 1 Depok yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari GPIB Immanuel.

Selain itu, setidaknya ada 3 sekolah Islam di sekitar Jalan Pemuda, yakni SDIT Al Qalam, SD-SMP Islam Al Haraki, dan SMK Yayasan Pondok Pesantren Depok. Jumlah gereja yang ada di wilayah ini pun tergolong banyak. Ferdy mengatakan hal itu bukanlah masalah.

“Bahkan sekolah punya kita, yaitu SMP Kasih dan SMA Kasih juga untuk umum. Gurunya pun ada yang pakai jilbab. Memang dikiranya SMP-SMA Kasih untuk anak Kristen (sekolah berbasis agama), padahal nggak. Kita bebas,” ujar Ferdy.

Kaum Depok Lama, yakni anak turun dari marga-marga Kristen peninggalan Chastelein kemudian dikenal dengan sebutan ‘Belanda Depok’. Mereka punya catatan yang traumatik sebagai seorang minoritas.

Saat fajar kemerdekaan Indonesia menyingsing, mereka dianggap pro-Belanda alias pro-penjajah. Ditambah lagi, meski tak punya arah Belanda, mereka bisa berbahasa Belanda. Kaum Belanda Depok menjadi sasaran stereotip.

Gedoran Depok terjadi pada 11 Oktober 1945. Para pemuda bersenjata senapan dan golok memasuki Kerkstraat (saat ini Jalan Pemuda) dan menggedor rumah-rumah di sini. Penjarahan terjadi.

Perlawanan diganjar dengan pembunuhan oleh para pemda pro-kemerdekaan. Ada yang dipenggal, dibawa ke Penjara Paledang Bogor, dan anak-anak sert perempuan dibawa ke Gedung Gemeente Bestuur (kantor pemerintahan).

Menurut Ferdy Jonathans, Gedoran Depok adalah peristiwa yang timbul di masa lalu. Selebihnya, kehidupan di sini cenderung aman-aman saja dari konflik karena perbedaan.

“Ya tahun 1945 itu saja, mulai timbul ada gesekan, ada yang bawa agama, ada yang perampokan, ada yang murni menyampaikan kemerdekaan,” kata Ferdy Jonathans.

Peristiwa itu memengaruhi psikologi kaum Depok Lama untuk selanjutnya. Mereka cenderung berhati-hati bila beraktivitas politik. Hanya sedikit dari mereka yang tampil ke permukaan, menjadi calon anggota legislatif misalnya.

“Ya orang Depok Lama saya lihat sudah nggak suka berpolitik atau ikut rame-rame, karena ada peristiwa yang membuat trauma orang Depok, 11 Oktober 1945,” kata Ferdy.

Memang ada peristiwa seperti kontroversi pembangnan Tugu Cornelis Chastelein pada 2014. Pernah juga, pengangkatan pohon natal yang dipasang di perempatan Jalan Pemuda. Khawatirnya, pohon natal akan menimbulkan gesekan antarwarga. Itu hanya peristiwa kecil saja. Ferdy memaklumi. Dia merasa sebagai kaum yang jumlahnya lebih sedikit, perlu untuk menempatkan diri dengan cara yang tak memicu keributan.

“Kita ini biar bagaimana tetap minoritas,” ucap Ferdy. Terlepas dari kalimat kepasrahan Ferdy, tentu saja hak-hak kaum minoritas perlu dihargai.

Kaum Belanda Depok, atau lebih tepatnya Depok Lama, kini meninggalkan trauma Gedoran dan menyongsong era toleransi. Setara Institute pernah mengeluarkan indeks Kota Toleran 2018. Dari 94 kota yang disurvei, Depok menempati ranking ke-88. Posisi Depok sedikit saja lebih baik ketimbang Jakarta yang berada di urutan ke-92.

Kunci Kerukunan

Kerukunan umat beragama di sekitar Jalan Pemuda memang sudah tercipta dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini pun dirasakan oleh Asnawi Sabrawi (63), Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Al Muhimmah SMPN 1 Depok, Jalan Pemuda.

“Saya tinggal disini dari tahun 1991. Tadinya saya tinggal di Jalan Pemuda. Tetangga saya kiri kanan itu sudah non-muslim semua. Tapi ya kita biasa, namanya juga bertetangga ya. Kita menjaga hubungan baik,” ujar Asnawi.

Asnawi menjadi saksi pembauran keseharian masyarakat di sini. Sudah hampir tiga dekade dia hidup di kawasan ini. Untuk urusan kemasyarakatan, warga jauh dari kesan eksklusif.

“Bahkan kita dalam pemilihan ketua RT juga sama-sama, ramai-ramai, ada muslim ada pula non-muslimnya. Mereka tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan agama,” kata Asnawi.

Kerukunan antarumat beragama juga terasa saat lebaran tiba. Rumah Asnawi dikunjungi oleh warga yang beragama Kristen. “Di rumah saya kalau lebaran gitu,” ujarnya.

Tak hanya toleransi antarumat beragama, warga juga toleran terhadap pilihan politik. Situasi politik yang dibumbui isu Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA) selama beberapa tahun belakangan tak mampu menyurutkan kerukunan di sini. Paling banter, perbedaan soal pilihan politik hanya berhenti di aplikasi perpesanan grup WhatsApp. Baginya, selama menghargai pilihan masing-masing, maka gesekan-gesekan bisa dihindari. Warga sudah terlatih menyikapi perbedaan sejak dulu.

“Karena di sini termasuk daerah yang majemuk dan selama ini nggak terjadi masalah-masalah yang berhubungan dengan SARA,” kata dia.

Menurut Asnawi, kunci menjaga kerukunan adalah sikap saling menghormati satu sama lain. Sikap ini bisa menjauhkan warga dari konflik karena perbedaan.

“Saya kira (yang penting) saling menghargai, saling menghormati, itu saja paling. Lalu saya tetap menjaga silaturahmi, karena dengan seperti itu, kalau saya melihatnya jadi ada keterbukaan lah ya. Kita saling menghargai menghormati keadaan masing-masing,” kata Asnawi.

Simak terus berita-berita di detikcom tentang toleransi antarumat bergama di seputar Jakarta.
(dnu/fjp)