AGEN POKER | CARA DAFTAR POKER ONLINE INDONESIA TERPERCAYA

Jakarta Seperti Singapura-Bangladesh karena Perencanaan Tak Konsisten

Jakarta – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyinggung ketimpangan di Ibu Kota saat meninjau sejumlah titik kemacetan bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. JK menyebut, kawasan MH Thamrin sebagai Singapura tetap kawasan Tanjung Priok seperti Bangladesh.

Hal itu diamini pengamat tata kota Nirwono Yoga. Dia mengatakan, pembangunan di Jakarta memang tidak merata dikarenakan perencanaan Jakarta yang tak konsisten. Nirwono mengatakan, perencanaan Jakarta sebenarnya sudah bagus namun pemerintah kerap kali melanggarnya.

“Ucapan dari Pak JK adalah sebuah masukan supaya Gubernur DKI sekarang menyiapkan Jakarta untuk 2- sampai 30 tahun ke depan seabgai kota besar. Jadi untuk seluruh kawasan bukan untuk kawasan Thamrin-Sudirman saja,” ucap Nirwono saat diwawancara detikcom, Selasa (29/1/2019).

Untuk membumihanguskan ketimpangan, Nirwono meminta Pemprov DKI untuk tetap pada perencanaan RTRW yang sudah dicanangkan. Dia mengatakan, rencana tata ruang wilayah (RTRW) di Jakarta kerap kali berubah hanya karena beda kepemimpinan.

Menurutnya, pencanangan RTRW di Jakarta sudah bagus bahkan dari zaman Gubernur Ali Sadikin. Namun pemerintah kerap tidak konsisten sehingga konsep RTRW melenceng.

“Intinya jangan ganti pemimpin ganti kebijakan, ini yang tidak diperhatikan pemerintah,” tuturnya.

Sedangkan pengamat tata kota lainnya, Yayat Supriatna, mengatakan, ketimpangan di Jakarta terjadi karena mahalnya biaya hidup di Jakarta. Akhirnya warga bertahan hidup di Jakarta dengan serba kekurangan.

“Kampung Bangladesh adalah cermin dua wajah Jakarta dan wajah kesenjangan yang semakin tinggi. Biaya tranportasi dan sewa rumah mahal membuat warga meminimalkan biaya hidupnya supaya bisa hidup dan bertahan di Jakarta,” ucap Yayat.

kawasan kumuh di Jakartakawasan kumuh di Jakarta Foto: Pradita Utama

Yayat menjelaskan, tingginya biaya hidup itu membuat warga Jakarta di perkampungan menjadi betah miskin. Tingginya biaya hidup di Jakarta tak dibarengi dengan mudahnya mencari uang di Jakarta.

“Tingginya biaya hidup membuat warga ‘betah miskin’. Sementara untuk bangun rumah susun murah di tengah kota adalah mimpi,” papar Yayat.

Sebelumya Wapres JK melihat kumuhnya Jakarta khususnya di belakang Jalan MH Thamrin dan kawasan Tanjung Priok. Dia menyebut ketimpangan tersebut seperti ‘Singapura vs Bangladesh’.

“Kalau kita lewat Jalan Thamrin (dari helikopter) ini tidak beda dengan Singapura. Begitu ke belakang Jalan Thamrin, atau ke Tanjung Priok itu sama dengan daerah atau kota-kota lain kayak Kalkuta, Bangladesh, kayak Manila, atau ya kumuhlah,” kata JK.

Kawasan Jl MH ThamrinKawasan Jl MH Thamrin / Foto: Kanavino Ahmad Rizqo/detikcom

Menanggapi itu, Gubernur DKI Anies Baswedan mengamini pernyataan JK. Menurutnya, apa yang disampaikan JK itu bukan kritik, melainkan fakta. Dia mengatakan, ketika perencanaan dilakukan dengan benar, pergerakan ekonomi akan terjadi.

“Nggak, itu bukan kritik, tapi itu fakta. Itu Pak JK mengatakan itu contoh. Ketika tata ruang dirancang dengan benar, private sector juga akan bergerak membangun di situ dan lain-lain. Tapi kalau kita tidak membuat perencanaan tata ruang yang benar, ya tidak akan ada pergerakan perekonomian,” kata Anies.

(rvk/fai)