AGEN POKER | CARA DAFTAR POKER ONLINE INDONESIA TERPERCAYA

Pengacara: Pemuda yang Fitnah ‘Pendukung Jokowi Munafik’ Umurnya Masih Labil

Mataram – Seorang pemuda berinisial IS (20) di Mataram, NTB ditangkap polisi karena karena membuat ujaran kebencian di Facebook. Pengacara IS, Muhanan menyebut kliennya itu masih berada di umur yang labil.

“Alasan kami karena kita melihat, Imran ini kan umurnya masih labil, dia juga memiliki orangtua yang kurang sehat (disabilitas). Jadi kita mengajukan poin-poin di situ,” kata Muhanan di Mataram, Minggu (27/1/2019).

Muhanan merupakan salah satu dari 7 pengacara yang tergabung dalam Aliansi Advokat Nusantara yang membantu IS dalam kasus ini. Menurut Muhanan, tidak ada unsur dari pernyataan IS yang dapat menimbulkan perpecahan di masyarakat.

“Kalau kami melihat belum ada terpenuhi unsur-unsur. Bahwa di pernyataan itu kan belum jelas siapa yang harus menimbulkan perpecahan kan, belum ada, permusuhan di antargolongan juga belum ada. Jadi kita mengganggap bahwa status itu tidak memenuhi unsur untuk bisa dilanjutkan,” ujarnya.
Muhanan lalu mengungkapkan, IS merupakan salah seorang korban gempa NTB yang rumahnya rusak akibat gempa. IS dan keluarganya belum mendapat bantuan untuk merehab rumah.

Sebelumnya, orang tua IS juga memohon agar anaknya dapat dilepaskan. Orang tua pun berharap agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) dapat memaafkan pernyataan IS yang ditulis di akun Facebook.

“Sedih aja jadinya saya begitu bahwa menghina atasan kan Pak Presiden kita. Mudah-mudahan Pak Presiden kita bisa memaafkan dia. Supaya dimaafkan anak saya. Semoga diampunkan. Semoga dibebaskan dia. Saya yang minta maaf kepada Bapak Presiden kita,” ucap orang tua IS, Saidi (52), saat menjenguk anaknya di Rutan Polres Mataram, Jumat (25/1).

Pada Jumat (18/1) sehari setelah tayangan debat perdana capres dan cawapres, IS melalui akun Facebooknya bernama Imran Kumis mengunggah status yang berisi ujaran kebencian.

Polisi menilai perbuatan IS dikhawatirkan dapat menimbulkan rasa benci, permusuhan, dan ketersinggungan. IS menyebut ‘pendukung Jokowi ialah munafik’ di akun Facebook-nya.

“Dia mengaku dengan alasan tidak terima orang dari agama tertentu dalam memilih capres tertentu,” kata Kapolres Mataram AKBP Saiful Alam.

Akibat perbuatannya, tersangka IS dijerat dengan Pasal 28 ayat 2 juncto Pasal 45A UU ITE. IS terancam pidana maksimal 6 tahun dan denda paling banyak Rp 1 miliar.
(nvl/nvl)