Trump Akan Bertemu Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un Awal 2019

loading…

AIR FORCE ONE – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan akan bertemu  Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un pada Januari atau Februari. pada Januari atau  Februari. Menurut Trump, ada tiga lokasi untuk pertemuan kedua mereka yang sedang dipertimbangkan.

“Kita sudah lama sangat baik. Kami memiliki hubungan baik,” kata Trump pada para jurnalis di kabin pesawat Air Force One yang sedang terbang membawanya pulang dari konferensi tingkat tinggi (KTT) G20 di Argentina.

Trump menambahkan, pada beberapa poin, dia akan mengundang Kim ke AS. Kedua pemimpin telah bertemu pertama kali di Singapura pada Juni lalu. Gedung Putin menyatakan pada Sabtu (1/12), setelah pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping bahwa mereka dan Kim akan melihat Semenanjung Korea bebas nuklir.

“Xi dan Trump sepakat bahwa kemajuan besar telah dibuat dengan menghormati Korut,” kata pernyataan Gedung Putih dilansir kantor berita Reuters, kemarin.

Bulan lalu, Wakil Presiden AS Mike Pence menjelaskan, Trump akan mendorong renca na nyata untuk merinci langkah-langkah Pyongyang mengakhiri program senjatanya.

Pence menjelaskan bulan lalu bahwa AS tidak mengharuskan Pyongyang memberikan daftar seluruh senjata nuklir dan lokasinya sebelum KTT kedua tapi pertemuan itu harus menghasilkan rencana nyata.

“Saya pikir akan sangat bagus pada KTT berikutnya bahwa kita datang dengan rencana untuk mengidentifikasi semua persenjataan dalam pertanyaan, mengidentifikasi semua lokasi pengembangan, mengizinkan inspeksi lokasi dan rencana melucuti senjata nuklir,” ungkap Pence.

Pence juga menyatakan, penting bahwa sanksi internasional terhadap Korut tetap diberlakukan hingga Pyongyang mencapai denuklirisasi sepenuhnya. Korut marah karena AS menolak meonggarkan sanksi. Pyongyang pun memperingatkan dapat kembali mengembangkan program nuklir jika Washington melonggarkan sanksinya.

Lembaga analis AS bulan lalu menyatakan pihaknya mengidentifikasi sebanyak 13 dari perkiraan 20 pangkalan rudal yang aktif dan tidak dideklarasikan di Korut. Temuan itu menunjukkan tantangan bagi para negosiator AS yang ingin membujuk Kim agar menyerahkan program senjatanya.

Korut telah membahas kesepakatan dengan kekuatan regional pada 1994 dan 2005 untuk melucuti program nuklirnya dengan imbalan tunjangan ekonomi dan imbalan diplomatik. Namun, semua perundingan itu terhenti setelah Korut terus membangun senjata nuklir.

(don)