Trump-Jong-un Jilid II Awal Tahun Depan, Lokasi Masih Rahasia

loading…

Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korut Kim Jong-un. Foto/Istimewa

WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengatakan ia kemungkinan akan bertemu dengan Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un pada bulan Januari atau Februari. Ia juga mengungkapkan ada tiga lokasi yang tengah dipertimbangkan untuk menggelar pertemuan tersebut.

“Kami bergaul dengan sangat baik. Kami memiliki hubungan yang baik,” kata Trump kepada wartawan di Air Force One sekembalinya dari KTT G20 di Argentina seperti dikutip dari Reuters, Minggu (2/11/2018).

Trump menambahkan bahwa pada titik tertentu ia akan mengundang Kim ke Amerika Serikat.

Kedua belah pihak telah terlibat dalam pembicaraan tentang pertemuan kedua setelah yang pertama terjadi di Singapura bulan Juni lalu. Pertemuan itu belum pernah tejadi sebelumnya.

Gedung Putih mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu setelah pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping bahwa mereka dan Kim akan berusaha untuk melihat Semenanjung Korea yang bebas nuklir.

Pernyataan itu mengatakan Xi dan Trump setuju bahwa kemajuan besar telah dibuat sehubungan dengan Korut.

Bulan lalu, Wakil Presiden Mike Pence mengatakan Trump akan mendorong rencana konkrit yang menguraikan langkah Pyongyang untuk mengakhiri program persenjataannya.

Pence mengatakan kepada NBC News bulan lalu bahwa Amerika Serikat tidak akan meminta Pyongyang untuk menyediakan daftar lengkap senjata nuklir dan lokasi sebelum KTT kedua, tetapi pertemuan itu harus menghasilkan rencana konkrit.

“Saya pikir itu akan benar-benar penting dalam KTT berikutnya yang kami datang dengan rencana untuk mengidentifikasi semua senjata yang dipermasalahkan, mengidentifikasi semua lokasi pembangunan, memungkinkan untuk inspeksi situs dan rencana untuk membongkar senjata nuklir,” kata Pence.

Pence juga mengatakan tekanan sanksi internasional juga penting dipertahankan sampai denuklirisasi sepenuhnya tercapai.

Korut marah ketika Washington menolak untuk meringankan sanksi dan telah memperingatkan dapat melanjutkan pengembangan program nuklirnya jika AS tidak membatalkan kampanyenya.

Sebuah lembaga pemikir AS mengatakan bulan lalu telah mengidentifikasi setidaknya 13 dari sekitar 20 basis rudal aktif yang dideklarasikan di Korut. Lembaga itu menggarisbawahi tantangan bagi negosiator Amerika yang berharap untuk membujuk Kim Jong-un agar menghentikan program senjatanya.

Korut telah menandatangani perjanjian dengan kekuatan regional pada tahun 1994 dan pada tahun 2005 untuk membongkar program nuklirnya dengan imbalan keuntungan ekonomi dan imbalan diplomatik. Tetapi kesepakatan itu gagal setelah Pyongyang secara diam-diam terus mengejar pembangunan senjata pemusnah massal.

(ian)